Logika dan Perasaan dalam Cinta
Orang yang mengandalkan logika biasanya berbasis data dan fakta, sementara perasaan isi hatilah yang menjadi sumber kendali. Di antara keduanya memang berbeda, bahkan dianggap saling berlawanan. Namun pada kenyataannya logika dan perasaan tak bisa dipisahkan. Logika kerap menjadi gerbang pertama hadirnya cinta, sedang perasaanlah yang mempertahankan dan menjaga cinta itu.Bukankah ada kalimat yang sering kita dengar : “dari mata turun ke hati”. Artinya apa? kalimat tersebut menyiratkan bahwa cinta itu bermula dari apa yang bisa diindra terlebih dahulu, sebelum perasaan menguasai pikiran dan mengambil kendali bahkan melumpuhkan logika.
Logika, dan Perasaan Membentuk Sikap
Seseorang bisa menyukai lawan jenisnya karena paras, fisik, ilmunya, sekufu, hobi dan hal lain yang bisa ditangkap oleh indra. Semua itu menjadi input yang diproses oleh logika, lalu mempengaruhi perasaan, dan perasaan itulah yang mempengaruhi output berupa sikap. Bahkan saat muncul pertanyaan dalam khayal "apakah cinta itu perlu diwujudkan atau dibiarkan dalam angan?" dan untuk menemukan jawaban tersebutpun antara logika dan perasaan bekerja beriringan.Logika dan Perasaan Harus Berjalan Bersamaan dan Tak Bisa Dipisahkan
Pada akhirnya ketika logika dan perasaan dipertemukan dan dipersatukan maka tidak bisa dipisahkan, karena jika kehilangan salah satunya akan terjadi kehancuran, akan melemahkan. Sebab diantara keduanya saling membatasi, saling menguatkan, dan saling memberikan pemahaman.Kalau Suka Kontennya, Ditunggu Sawerannya

Bebas berkomentar asal santun dan tidak kasar. Komentar yang mengandung konten por*o dan ju*i akan dihapus. Jangan lupa juga centang kotak "notify me" supaya ada notification jika komentarnya sudah dibalas. Terimakasih :)