Ilustrasi kartun dinamika politik Indonesia dan prediksi calon presiden Indonesia 2029 dan 2034
Meski PILPRES masih lama, entah kenapa gue tertarik untuk membahas ini sekarang. Jika orang-orang latah ikut-ikutan menyudutkan Presiden terpilih saat ini dengan beragam narasi di sosmed saya juga mau ikutan bernarasi dan beropini. Iyalah biar kayak konten kreator juga yang seolah mengedukasi padahal sedang menggiring opini. 

Polanya sih sederhana: A diframing buruk, B diframing baik. Lalu di akhir narasi muncul kalimat, “Pilih yang baik.” Secara psikologis, masyarakat akan menganggap yang “baik” adalah B.  Padahal menurut gue politik ga sesederhana itu dan jangan terlalu percaya pada politik apalagi menganggap baik. Di balik setiap pasangan calon ada partai, ada kepentingan, ada sponsor. Sehingga tentunya yang didahulukan ya sponsornya dahulu, sulit jika keputusan politik benar-benar steril dari kepentingan. 

Namun yang sering terjadi, masyarakat justru terpecah dan saling membenci karena merasa jagoannya paling benar. Bisa jadi yang di atas justru diuntungkan oleh konflik di bawah. Belum lagi soal buzzer yang suka membuat framing, dan narasi saling serang. Opini di sosmed bisa dibentuk, emosi pembaca bisa digerakkan, dan netizen berbudiman sering kali terseret arus tanpa sadar. Media sosial membuat semua orang merasa paling tahu, padahal sering kali hanya terjebak narasi yang sudah disiapkan. Pada akhirnya menjadi bebek.

Cebong Kampret Hilang, Tapi Politik Tetap Punya Drama Baru

Jika melihat kaca spion, PILPRES kemarin menurut gue relatif lebih cair dibandingkan periode sebelumnya. Kenapa? karena polarisasi yang dulu begitu kuat yang muncul sejak PILGUB DKI perlahan mereda. Tak adalagi Nasionalis VS Agamis apalagi kemarin PASLONnya ada 3 pasang.

Istilah "cebong kampret" yang sempat populer bahkan menjadi nama panggilan seseorang ataupun kelompok di sosmed akhirnya dikubur oleh elit politik sendiri. Momentumnya ada ketika Prabowo Subianto menyatakan “selamat tinggal cebong kampret” setelah bergabung dengan Pemerintahan Jokowi Dodo yang menjadi Presiden saat itu, menjadi simbol bahwa konflik tersebut ditinggalkan.

Meskipun begitu meski polarisasi agamis vs nasionalis dan cebong kampret mereda, justru ternyata hal tersebut membangun kekuatan baru. Yang dulunya saling serang malah bersatu melawan sosok yang meredam polarisasi, namanya juga politik selalu dinamis memang.

Meneropong siapa presiden di 2029 / 2034

Meski pilpres terdekat masih lama, pergerakan untuk kursi Capres mungkin sudah dilakukan oleh beberapa politikus. Beberapa nama yang kerap disebut publik antara lain: 
  • Anies Baswedan yang terus bergerak bahkan membangun Partai, 
  • Kang Dedi Mulyadi yang sempat diisukan sebagai Capres Aing, 
  • Agus Harimurti Yudhoyonoyang selalu dibawa-bawa apalagi memiliki kekuatan partai.

Tapi ya dinamika politik pasti selalu berubah dan ga bisa ditebak. Semisal Jokowi yang bilang akan pulang ke Solo menjadi warga biasa tapi sekarang menduduki Gajah PSI dan memiliki pengaruh politik yang kuat, ataupun Ahok yang dulu seperti karib Jokowi tapi sekarang seperti berlawanan. Eh tapi Anies dan Jokowi juga dulunya temenan :D ya itulah politik : dulu sejalan, sekarang berbeda arah; dulu berbeda, kini bisa aja di kelompok yang sama.

Kriteria presiden dimasa yang akan datang

Siapapun calonnya, menurut gue dimasa yang akan datang pemenangnya adalah sosok yang mengkesampingkan nilai agama. Hal ini diraih dengan faham kebebasan alias liberalisme. Setiap orang tentunya mau bebas berekspresi sesuai kehendaknya, baik masalah gender, seni, dan lainnya. Bagi banyak orang terkhusus anak muda, pemikiran inilah yang lebih modern dengan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi, pluralisme, serta hak Individu.

Calon presiden yang menjunjung tinggi hak asasi manusia maka inilah kriteria presiden yang kemungkinan besarnya akan terpilih di pemilu nanti. Meskipun isu HAM tersebut pada masalah gender seperti LGBTQ maka ia akan merangkulnya, ia akan bersuara dan membela kelompok marjinal.

Indonesia mayoritas beragama, apakah cocok pemimpinnya berfaham kebebasan?

Indonesia adalah negara dengan mayoritas masyarakat yang beragama, secara ideologis akan sangat bertentangan antara agama dan liberalisme. Seperti kebebasan gender, dalam agama tak ada yang namanya sesama jenis namun dalam liberalisme ini adalah hak dan kebebasan individu sehingga nanti bakal muncul capres yang menjamin kebebasan ini. 

Namun meski bertentangan, agama pun masih bisa dirangkul atas dasar kebasan individu untuk memilih agama dan keyakinannya masing-masing tanpa harus memaksakan kehendak orang lain yang berbeda. Toh saat ini pun institusi keagamaan masih dirangkul oleh negara dan saat inipun masih mengadopsi nilai agama kedalam hukum resmi.

Harus memiliki faham sosialisme juga

Kalo gue buka sosmed, hal yang gue garis bawahi dan dikasi stabilo adalah "setiap individu punya kesempatan hal yang sama", "setiap orang berhak mendapat perlakuan yang sama", "hukum yang adil tanpa memandang status", "ketimpangan kelas", "persetujuan masyarakat pada keputusan yang pemerintah ambil". Itulah narasi-narasi yang sering gue denger disosmed berbagai platform.

Masyarakat kita seperti sudah mulai dibentuk untuk menuju faham liberalisme dan sosialisme dengan diikuti adanya kebebasan dalam berpolitik seperti seringnya aksi demonstrasi (meski di framming seolah pemerintah anti demonstrasi), adanya kebebasan berpendapat di sosial media, bahkan munculnya kebebasan dalam memilih gender.


Kolamnya dulu atau tokohnya dulu yang akan dibangun?

Menurut gue yang sedang mencoba menjadi dukun politik pada tulisan ini, tokoh dengan kriteria yang gue sebutkan sudah ada dan sudah membangun citra sejak lama. Sedangkan kolamnya, sudah terbentuk dengan beragam kolam. Karena ya yang namanya liberalisme harus merangkul beragam karakter jangan fokus pada komunitas tertentu saja.


Tidak benar jika beragama tapi membiarkan kehidupan dikendalikan faham kebebasan

Politik itu bukan siapa yang paling suci ataupun paling benar. Politik adalah terkait kepentingan, manajemen konflik, serta kemampuan membaca peluang suara untuk memenangkan pemilu. Akhir-akhir ini agama selalu menjadi alat, baik untuk memperbaiki citra maupun menyerang pihak lain. Namun sepertinya dimasa yang akan datang hal ini akan sulit digunakan.

Dengan banyaknya  pemilih anak muda yang gak terlalu mudah digerakkan dengan simbol agama dan gak akan memilih paslon tertentu karena takut dianggap kurang iman , tak ada salahnya juga jika tujuannya ya kursi jabatan. Mereka anak muda lebih peduli isu konkret: seperti ekonomi, keadilan sosial, dan kebebasan.


Tulisan ini gue akhiri....

Menurut gue, cukup sekian tulisan gue kali ini. Jika tulisan gue banyak salah dan ngaconya, ya wajar karena gue bukan ahli politik dan tak punya ilmu akan hal itu, bukan analis politik juga apalagi gue gak duduk bersama elit politik. Jika kamupun menganggap gue gak memahami istilah ideologi agama, ideologi liberalisme, ideologi sosialisme, maka anda benar.

Namun jika kamu menuntut kesempurnaan, toh banyak kok influencer di sosial media yang selalu mendapat panggung besar padahal analisisnya sering ngaco juga.  Mereka ahli framming dan menggiring opini.

Kalau Suka Kontennya, Ditunggu Sawerannya