Ilustrasi kartun seorang pria panik di kamar mandi setelah boker, celana panjang jatuh basah di lantai, jam menunjukkan pukul 17.20 menjelang maghrib, menggambarkan dilema antara firasat dan rasa malas untuk tadarus.
Jam menunjukkan pukul 17.20. Suara anak SMP terdengar dari speaker masjid jamie tandanya kalo udah anak SMP mengaji, azan maghrib tinggal hitungan kurang dari satu jam lagi. Dan aku? Masih di rumah. Padahal harusnya sudah berangkat buat tadarusan ke masjid lainnya di sebelah timur yang biasa disebut mushala.

Sebelum ke mushala, aku memutuskan mampir dulu ke rumah saudara. Ada urusan penting banget. Sangat penting. Urusan biologis yang tidak bisa ditunda. Iya, mau boker sebuah urusan yang ga bisa diajak kompromi meski disogok dengan serangan fajar.

Singkat cerita, misi pertama memborbardir wilayah musuh dengan bom nuklir sukses dilalui. Tapi masalah hidup memang suka datang tanpa aba-aba seperti perasaanku padanya. Baru saja cebok dan mau pakai celana, tiba-tiba… Celana gw jatuh. Dan bukan cuma jatuh. Tapi juga basah.

Gue sejenak terdiam, menatap celana, menatap lantai, menatap masa depan, dan juga menatapi kamu dari hati. sambil menggerutu dalam hati, gue meratapi takdir. Dalam hati kecilpun muncul suara lirih nan penuh pembenaran:

“Mungkin ini firasat… bahwa saya nggak usah pergi tadarusan, apalagi waktu menunjukan jam 17.30.” Alasannya mulai kususun rapi. Sudah telat, celana basah, lengkap sudah alasan untuk kembali rebahan sambil menghitung mundur waktu adzan maghrib dengan wajah sok pasrah.

Gue hampir saja mengangguk setuju dengan firasatku. Bahkan sudah mulai menerima dan berdamai dengan takdir. “Ya sudahlah, mungkin Allah kasih tanda, ga usah pergi tadarusan dulu” kataku sambil mencoba terlihat bijak padahal sebenarnya malas.

Tapi tiba-tiba, muncul bisikan lain di hati. “Firasat apaan woyyyy?! Buruannn ganti celana dan pergi ke masjid! baru ini solusi! bukan percaya firasat-firasat!”

Gue terdiam lagi dan merenung sejenak, ternyata kadang kita ini pandai sekali mencari pembenaran. Sedikit saja ada halangan ya malas, langsung kita bungkus dengan nama “firasat”. Padahal ya itu cuma kejadian biasa yang merupakan kelalaian, tanpa ada kaitannya dengan firasat apalagi seolah pesan dari langit.

Akhirnya gue berdiri dengan penuh semangat melawan firasat seolah ultraman gaia yang esplendernya menyala dan mau menyerang monster yang datang dari galaksi lain. Gw pun ganti celana, rapikan diri, dan berangkat juga ke mushala. Meski agak telat, tapi tetap datang dan duduk membaca Al-qur`an . 

Kalau difikir, kadang kita seolah punya firasat sebagai pertanda akan terjadi sesuatu ataupun petunjuk. Tapi apakah itu datangnya dari Allah SWT? ga sedikit kita menilai sebuah firasat adalah petunjuk dari Allah SWT. Kalau yang terjadi pada gue diatas apakah sebuah firasat?

Ternyata mungkin bukan firasat yang datang seperti wahyu dan tidak harus diikuti. Bisa aja yang hadir adalah  rasa malas yang sedang cari pembenaran dan dibaluti kata firasat. Dan pada akhirnya ketika 10 menit menjelang maghrib, seperti biasanya aku paling pertama duduk didepan takjil dari warga. Bersiaga dan menyerangnya saat adzan maghrib berkumandang.

Kalau dipikir-pikir, kejadian diatas bukan tentang celana yang basah. Tapi tentang bagaimana kita menyikapi halangan kecil, dan mencari solusinya. Serta tidak semua yang terasa seperti firasat, benar-benar firasat yang harus diikuti. Bisa aja bisikan setan seperti rasa malas dan yang pasti rasa malas itu akan mengikuti langkah kebaikan.

Kalau Suka Kontennya, Ditunggu Sawerannya